Cek Status Pertumbuhan dan Risiko Stunting
Advertisement
Google AdSense Placeholder
Tools Terkait
Cek Status Gizi Anak (BMI Menurut Umur)
Hitung BMI anak usia 2-18 tahun dengan standar WHO. Disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin untuk hasil akurat.
Apakah Berat Badan Ideal? Cek BMI di Sini
Hitung Indeks Massa Tubuh (BMI) dewasa dengan standar WHO. Ketahui status berat badan ideal, underweight, atau obesitas.
Cek Tabel Berat Badan Ideal Bayi Sesuai Usia
Cek berat badan ideal bayi berdasarkan usia dan panjang badan. Gunakan standar WHO untuk memantau tumbuh kembang bayi 0-24 bulan.
Tentang Cek Status Pertumbuhan dan Risiko Stunting

Tentang Tools Ini
Kalkulator Stunting membantu orang tua mengecek apakah tinggi badan anak sesuai standar pertumbuhan WHO. Membandingkan tinggi badan anak dengan median dan batas -2 SD berdasarkan usia dan jenis kelamin. Anak di bawah -2 SD tergolong stunting.
Fitur
- Perhitungan Z-score TB/U (tinggi menurut umur)
- Standar WHO 2006/2007 untuk anak 0-19 tahun
- Kategori: normal, stunting, severely stunted
- Input usia dalam bulan (0-228 bulan)
Manfaat
- Deteksi dini stunting pada anak
- Pemantauan tumbuh kembang rutin
- Bantu orang tua ambil tindakan cepat ke Posyandu
Cara Menggunakan
- 1Pilih jenis kelamin anak
- 2Masukkan usia anak dalam bulan
- 3Masukkan tinggi badan anak (cm)
- 4Klik Hitung, lihat Z-score dan kategori status gizi
Tips
- Ukur tinggi dengan benar: <2 tahun telentang, ≥2 tahun berdiri
- Stunting bersifat permanen jika tidak dikoreksi sebelum usia 2 tahun
- Fokus pencegahan: ibu hamil dan bayi 0-24 bulan (1.000 HPK)
- Jika hasil stunting, segera konsultasi ke Puskesmas atau dokter anak
Pertanyaan Umum
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh tinggi badan akibat kekurangan gizi jangka panjang. Diukur dengan Z-score TB/U < -2 SD. Berbeda dengan gizi buruk akut yang diukur dengan BB/TB.
Berdasarkan SKI 2023, prevalensi stunting nasional 21,5%, turun dari 24,4% (2021). Target RPJMN 2024: 14%. Masih tertinggi di provinsi timur Indonesia.
Jika terdeteksi sebelum usia 2 tahun (1.000 HPK), masih bisa diperbaiki dengan intervensi gizi. Setelah 2 tahun, dampak pada tinggi dan kognitif cenderung permanen. Deteksi dini sangat penting.
Asupan gizi kurang (protein hewani, zat besi, zinc), infeksi berulang (diare, ISPA), pola asuh tidak optimal, sanitasi buruk, BBLR, ASI tidak eksklusif, dan MP-ASI tidak adekuat.